Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

24 October 2016

DUM-DUMAN KOPYOKAN

 
Mbiyen, Mbah Buyut almarhum pernah cerita, “Aku lahir kira-kira tahun Limolas Le. Soale pas tahun Slawe ana dum-duman kopyokan, aku wis kelingan, wis rada gedhe.” (Tahun Limolas = 1915, Tahun Slawe = 1925)
Ada yang menarik dari cerita Mbah Buyut itu: Dum-Duman Kopyokan. Setelah sekian lama penasaran dengan istilah itu, alhamdulillah pagi ini ada sedikit informasi tentang Dum-Duman Kopyokan itu.
Dum-Duman Kopyokan artinya pembagian tanah, seperti “Reformasi Agraria” kalau istilah zaman sekarang.
Konon, sebelum tahun 1925, tanah pertanian di daerah Pancot dimiliki orang-orang tertentu dengan status kepemilikan yang kurang jelas. Menang-menangan mungkin. Nah, pada tahun 1925 itulah terjadi pembagian tanah secara resmi. Semua tanah yang sudah dikelola warga diminta kembali atau digulung oleh pemerintah. Yang dimaksud dengan pemerintah itu entah Kasunanan Surakarta atau Pemerintah Hindia Belanda. Setelah digulung, tanah itu kemudian dibagikan kembali kepada warga dengan cara kopyokan. Diundi.
Tanah kopyokan itu lokasinya berada di sebelah utara dan di sebelah barat Pancot. Hanya ada 100 jatah kopyokan sehingga tidak semua warga Pancot memperoleh tanah jatah itu.
Selain Tanah Kopyokan, ada lagi istilah Tanah Pungutan. Tanah Kopyokan lokasinya di sebelah berat Gal Sere, terus ke barat sampai Gal Dhok, lalu ke selatan sampai Gal Geneng. Tanah Pungutan lokasinya di sebelah barat kampung. Tanah Kopyokan dibagikan kepada warga, sedangkan Tanah Pungutan diberikan kepada para pamong desa.
Nah, pada akhirnya Tanah Pungutan itu juga dikopyok (diundi), lalu diberikan kepada warga yang sebelumnya tidak mendapatkan jatah dari kopyokan pertama Tahun Slawe itu.
Ada hal lain yang juga cukup menarik. Ternyata mendapatkan undian kopyokan itu tidak otomatis membuat warga senang. Mendapatkan jatah tanah tidak serta merta membuat warga bahagia. Kenapa?
Karena pemilik kopyokan itu memiliki kewajiban-kewajiban tertentu. Pertama, pada waktu tertentu mereka harus memberikan sebagian hasil buminya kepada pihak pemerintah di Solo (Kasunanan). Waktu itu belum ada transportasi dari Pancot ke Solo sehingga warga membawa hasil bumi itu dengan berjalan kaki. Jauh dan melelahkan. Kedua, Pemilik kopyokan juga harus membayar pajak. Jika hasil buminya tidak mencukupi, pajak-pajak itu terasa berat bagi penduduk. Bahkan sampai ada warga yang mengembalikan jatah kopyokannya kepada pemerintah (Bayan) karena hasil buminya tidak mencukupi. Tanah itu terutama yang lokasinya jauh dari kampung, dekat hutan, kurang subur, dan sebagainya. Tanah yang jika ditanami ketela dimakan celeng, ditanami jagung dimakan monyet. Begitulah…
#
Sepenggal cerita di atas bersumber dari kisah satu orang. Mungkin benar, mungkin kurang pener. Perlu kita lengkapi dengan data dan informasi yang lebih banyak dan lebih valid lagi. Ayo, siapa yang berkenan tanya ke Mbahnya atau Pakdhe/Pakliknya. Mari berbagi informasi. Gito-Gito sithik. Sing penting Gayeng :)



Depok, 15 Oktober 2016

26 January 2016

TANI

 

Foto karya @MasnoArt
Pengertian tentang "petani" di tempat kita berbeda dengan pengertian "petani" di beberapa negara maju, misalnya Jepang dan Australia.

Di negara-negara barat, pertanian bukan semata-mata tentang tanaman atau pengolahan tanah. Pertanian juga meliputi peternakan, perikanan, perkebunan.

Sebutan "farmer" hanya merujuk pada petani skala besar, bukan petani yang punya satu dua sawah dan hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Itu "peasant" bukan "farmer".

Saya mendengar, petani di Jepang adalah juragan-juragan yang disegani oleh masyarakat maupun pemerintah setempat. Saya pribadi pernah mengenal seorang petani Jepang yang memiliki sawah 300 petak. Satu petak saja luasnya minta ampun.

Di Jepang dan Australia, menjadi petani tidak kalah bergengsinya dengan pekerjaan lain. Hasilnya melimpah. Mereka berperan besar dalam menentukan stok pangan negara.
Namun, saat ini permasalahan di negara maju sama dengan permasalahan kita: kurangnya minat anak-anak muda menjadi petani. Yah, selain alasan ekonomi, perlu panggilan hati untuk menjadi petani. Perlu mencintai tanah dan rupa-rupa tanaman. Anak muda memilih bekerja ke kota atau ke luar negeri daripada menjadi petani.

Karena itulah petani di negara maju mempekerjakan buruh pertanian dari Indonesia, Myanmar, Vietnam, Thailand, Brazil, Nigeria, dsb.

Lha kita?impor dari kampung sebelahpun sekarang susah.

Masih belum bisa membayangkan nasib pertanian kita dua atau tiga generasi mendatang.
Padahal, tempat kita (Pancot, Blumbang, Gondosuli) adalah salah satu dari sedikit tempat di nusantara yang mampu memproduksi bawang putih.

Semoga masih ada harapan baik di masa mendatang.

Aamiin.

31 October 2007

Dari Persilangan hingga Kegilaan pada ”Anthurium”

 
ANDA tentu tidak akan percaya kalau kedudukan istri di hadapan suami, bisa tergeser oleh satu pot bunga yang hanya berdaun 3 lembar. Anda juga tentu tidak akan percaya, kalau seorang istri bisa menangis begitu lama, karena kehilangan satu pot bunga kecil Anthurium dari halaman depan rumahnya.

Tetapi, itulah fenomena yang sedang terjadi di kalangan hobiis (para penghobi) tanaman hias saat ini. Diakui Nila (35), kolektor Anthurium, dirinya sangat marah ketika Anthurium Wave of Love (Gelombang Cinta) miliknya lenyap digondol maling. Padahal, tanaman itu satu-satunya jenis Anthurium yang paling dia suka.

"Kalau dilihat dari harganya memang mahal. Tapi karena saya paling suka jenis ini, jadi ya... harus beli lagi. Enggak lengkap rasanya kalau satu jenis saja tidak ada," ujar Nila seraya mengelu-elus daun Anthurium Gelombang Cinta yang sedang ditawarnya.

Nila mengaku pernah memburu Anthurium bibitan terbaru sampai ke Solo, terutama daerah Karanganyar yang merupakan sentra Anthurium dengan koleksi-koleksi terbaru. Nila juga mengatakan koleksinya pernah ditawar sampai Rp 45 juta.

Namun, Nila mengaku tidak pernah mau menjualnya. "Saya suka banget Anthurium. Kalau beli untuk dijual lagi buat apa. Bukan karena suka dong namanya, tapi karena bisnis," ujarnya menambahkan.

Lain Nila, lain pula Asikin (45). Karyawan yang mencintai tanaman hias sejak sebelum tren ini mengaku, sudah mengumpulkan Anthurium sejak lama. Bahkan, sejak harga Anthurium kecil masih Rp 10.000,00 sampai Rp 12.500,00 per pot.

Namun, sekarang Asikin mengaku kaget setengah mati karena ternyata tanaman hiasnya itu justru mendatangkan hoki. Dengan modal Rp 900.000,00 yang dibelikan 13 pot Anthurium setahun lalu, kini Asikin dapat mengantongi Rp 4 juta hanya untuk satu pot Anthurium.

"Awalnya, saya memang sangat suka tanaman Anthurium ini. Tapi, entah kenapa harganya jadi melambung. Rupanya tren tanaman hias memang sedang mengarah ke Anthurium. Bahkan, orang memburunya ke berbagai tempat untuk mendapatkan Anthurium," ujarnya.

Untuk itulah, hobi Asikin mulai bergeser. Semula hanya untuk kesenangan pribadi, kini menjadi peluang bisnis sekaligus. Beberapa koleksinya pernah diboyong saudaranya untuk dipasarkan di Solo, karena pasar Anthurium di sana sangat bergairah.

"Kalau di Bandung belum seheboh di Solo dan Jakarta. Tapi kalau pameran bunga di Bandung, sudah ada Anthurium yang ditawarkan Rp 90 juta, itu berarti pasar Bandung juga makin meningkat," ujarnya, yang mengaku sempat dicemburui istri karena perhatiannya lebih besar pada Anthurium.

Puber kedua

Demam Anthurium di kalangan hobiis menurut Syukur dari Harejo Nursary, merupakan gelombang kedua setelah yang pertama 4 tahun lalu. Tren ini ibarat puber kedua, setelah sebelumnya pernah terjadi hal yang sama terutama di kota-kota seperti Jakarta dan Solo. "Kalau Bandung mungkin baru sekarang hebohnya, tapi kalau di kedua kota itu sudah sejak 4 tahun lalu," ujarnya.

Dia menjelaskan, ada empat jenis tanaman hias yang kini sedang digandrungi para penghobi, yaitu Aglaonema, Anthurium, Adenium, dan Pachypodium. Dua genus pertama termasuk dalam famili Araceae (latin) atau Aroid (Inggris) atau dalam istilah Indonesia lebih dikenal dengan sebutan jenis talas-talasan.

Ciri khas Aroid adalah adanya seludang dan tongkol pada bunganya. Karena naiknya pamor dua jenis Araceae tadi, anggota lain famili ini ikut terangkat. Anggota Araceae antara lain adalah Alocasia, Colocasia, Arisaema, Amorphophallus, Xanthosoma, Caladium (keladi), dan banyak lagi.

Untuk Anthurium yang paling terkenal antara lain, Anthurium Wave of Love, Anthurium Jenmanii, dan Anthurium Hookeri. Sedangkan jenis yang paling banyak diburu saat ini menurut Nana Suyana dari Pesona Flora adalah jenis Anthurium Kobra KW1, Anthurium King Kobra, Anthurium Green Kobra, atau Anthurium Super Kobra.

Akan tetapi, pergeseran minat penghobi Anthurium memang sangat dahsyat dan cepat berubah. Beberapa bulan lalu para penghobi masih memburu Jenmanii, Hookeri, Garuda, dan Gelombang Cinta. Tapi kini, peminat Anthurium makin mencari Anthurium bertongkol. Tongkolnya pun tidak sembarang tongkol. Tetapi harus tongkol berukuran super alias besar.

Selera ini menggiring para petani Anthurium gencar melakukan pembibitan Anthurium bertongkol besar. Bahkan, para pedagang pun membandrol harga berdasarkan hitung-hitungan tongkol. Makin panjang dan besar tongkol, makin mahal harganya, karena semakin banyak pula bijinya. Kalau tongkolnya pendek dan kecil, harga lebih murah.

Syukur menjelaskan, daya pikat Anthurium memang pada bentuk dan warna daun. Termasuk urat dan tulang daun. Semakin aneh dan unik bentuk dan warna daun, semakin membuat bunga tersebut mahal. Namun, belakangan para penghobi lebih menyukai Anthurium bertongkol.

Seperti diakui Nila, semakin besar dan panjang tongkolnya, semakin sulit mendapatkannya. "Tapi, justru semakin kita ingin mencarinya," ujar Nila yang menghabiskan uangnya puluhan juta rupiah untuk mengoleksi tanaman ini.

Jika permintaan banyak, sedangkan ketersediaan Anthurium langka, maka barang akan makin sedikit. Akibatnya harga semakin mahal. Alasan tersebut kata Syukur, diperkuat pula dengan harga biji Anthurium yang belakangan ikut melejit.

Biji yang biasa disebut "oce" ini, bisa mencapai Rp 100.000,00 sampai Rp 150.000,00 per biji. Contohnya biji Jenmanii kini sudah menjadi Rp. 125.000,00 dan bibitannya sendiri sudah dipatok Rp. 190.000,00. Biji Gelombang Cinta juga pelan-pelan naik. Minggu lalu masih Rp. 5.000,00 kini sudah Rp. 10.000,00 per biji.

Penggila dan pengekor

Menurut Iwan, penjaga Nuansa Flora di kawasan Ciumbuleuit Bandung, ada dua jenis konsumen Anthurium. Konsumen Anthurium baru, yaitu mereka yang membeli harga dan kelompok yang membeli nama. Kelompok pertama adalah para followers yang suka ikut-ikutan tren Anthurium dengan membeli bibitan (seedling). Namun ketika harga kecambah, mereka langsung melupakannya.

Sedangkan kelompok kedua adalah mereka yang sibuk membeli berbagai Anthurium dengan nama baru, meski kadangkala mereka baru menyadari bahwa tanaman itu tidak ada bedanya dengan koleksi sebelumnya.

Kedua jenis konsumen ini tetap membawa untung bagi pedagang. Malah saking makin banyaknya permintaan terutama dari Jakarta dan Solo, muncul brokers yang menjadi pialang Anthurium. Biasanya mereka yang memainkan harga, termasuk membangun isu tren yang sedang diminati.

"Tapi, peminat sejati biasanya lebih konsisten. Dia tidak ikut-ikutan tren. Meskipun tidak banyak, mereka rata-rata mempunyai beberapa koleksi, tapi ini berbeda dengan koleksi yang biasanya akan dijual lagi," imbuhnya.

Melihat tren Anthurium yang terus "menggila", muncul fenomena lain yang lebih seru. Para pembibit melakukan persilangan (generatif) dengan gencar, sehingga terlahir Anthurium-Anthurium jenis baru yang lebih unik dan eksotik. Terutama dari bentuk daun, warna daun, dan tulang daun yang menjadi andalan Anthurium.

Nana menjelaskan, untuk Jenmanii saja tidak cuma dikenal dengan nama Centhong, Jati, Sawi, atau Golok. Tetapi, untuk Sawi sudah dibedakan lagi dengan Sawi Ijo, Sawi Caisim, dan Sawi Bakso. Tak terhitung lagi nama-nama baru untuk Anthurium-Anthurium jenis hibrida atau hasil silangan. Sedangkan silangan Jenmanii dengan Wave of Love disebut Jenwave dan masih banyak lagi.

Dampak lain yang menyertai tren Anthurium adalah makin tingginya tingkat pencurian terhadap tanaman ini. Asikin mengakui, setiap malam ia harus mengangkat pot-pot Anthurium-nya dari beranda ke dalam rumah.

"Kalau tidak dikeluarkan, khawatir tak terkena sinar matahari dan udara luar. Tapi, kalau tidak disimpan lagi ke rumah takut dicuri. Jadi, ya angkat jungjunglah kata orang Sunda mah," ujarnya.

Sedangkan bagi para petani pembibit dengan jumlah bibitan (seedling) yang cukup banyak, biasanya membuat pengamanan khusus. Dengan cara memasang pagar atau menempatkan penjaga kebunnya. Hal itu dilakukan karena tidak ingin hasil bibitannya digaruk maling.

Tren lain yang mengikuti melonjaknya Anthurium adalah sewa bunga. Sama halnya tanaman anggrek, beberapa pengusaha Anthurium menyewakan tanaman hias ini kepada pengelola hotel, wedding organizer, kantor-kantor pemerintahan, ataupun BUMN dan swasta. Harganya pun bisa mencapai puluh sampai ratusan ribu rupiah dengan jadwal sewa per minggu ataupun per bulan.

Jadi kata Syukur, memang banyak cara orang memanfaatkan tren ini. Ada yang bermain sebagai pembibit, pembesaran, penjual, brooker, sampai penyedia sewa (rental) Anthurium. Semua itu memberi penghidupan tersendiri dengan menangguk jumlah rupiah yang cukup besar.

"Inilah sisi positif dari tren Anthurium, banyak pihak yang kecipratan hebohnya. Semoga saja pamor Anthurium akan lebih bertahan lama," ujarnya menambahkan.

Namun, selayaknya sifat tren kecenderungan itu biasanya cuma sesaat dan tidak pernah abadi. Entah bunga apa lagi yang nanti akan menghebohkan pasar tanaman hias Indonesia. Jika sebelumnya tren Adenium, lalu tergeser ke Anthurium, besok-besok apa lagi?

Menurut Syukur, 10 "bintang" Anthurium dari keluarga Araceae yang akan bersinar adalah Zamioculcas (secara internasional disebut Zu Zu Plant) dan Arisaema (dalam nama populer bahasa Inggris disebut Jack in The Pulpit). Bagaiamana, apakah Anda sudah siap untuk memburunya?

Diambil dari http://www.pikiran-rakyat.com 5 September 2007

02 July 2007

Strawberry Tawangmangu Bebas Pestisida

 
LAHAN pertanian di Tawangmangu yang terletak di lereng Gunung Lawu, tepatnya 30 kilometer dari Kota Karanganyar, memang terkenal kesuburannya. Dari daerah itu dihasilkan berbagaai jenis sayur-sayuran dan buah-buahan yang berkualitas tinggi, seperti wortel, sawi, kobis, pisang, ubi, jeruk, dan lainnya.

Sayur dan buah-buahan sebagian untuk memasok kebutuhan di wilayah sekitarnya, seperti Solo, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, maupun Klaten.

Setelah masa keemasan jeruk Tawangmangu yang terkenal manis dan sedikit masam mulai turun akibat serangan hama, para petani terutama yang tinggal di Desa Kalisoro mulai membudidayakan strawberry sebagai pengganti jeruk.

Dari berbagai jenis strawberry yang ada seperti lokal, ana, silva, treestar, dan daun keriting, petani lebih memilih treestar dan keriting. Pilihan itu tidak asal dilakukan. Sebelumnya, mereka telah melakukan studi banding ke Bogor, Bali, dan Malang.

''Kami memilih treestar dan daun keriting karena memang cocok ditanam di sini. Namun, bukan berarti jenis lainnya tidak bisa ditaman di sini. Jenis lainnya juga bisa ditanam, tapi hasilnya tidak optimal,'' kata Marjono, ketua kelompok tani strawberry ''Sumber Agung'', Kalisoro.

Bebas Pestisida

Saat ini tanaman strawberry baru dikembangkan di lebih dari 3 hektare lahan di Tawangmangu. ''Kami mulai melirik lahan di tempat lain untuk mengembangkannya. Sebab lahan di Tawangmangu terbatas,'' kata dia yang mengaku mulai merintis menanam buah itu tahun 1999 lalu.

Marjono menuturkan, sebelum tertata dan terbentuk kelompok seperti sekarang ini, pola tanam strawberry masih bersifat liar. Artinya, mereka menanam tapi buahnya dimakan sendiri. Kalau pun dijual, untungnya tak seberapa karena hasilnya jelek. Tapi sekarang banyak petani yang mulai serius menanam strawberry. Bahkan, mereka mengandalkan hidupnya dari tanaman itu, karena keuntungannya cukup besar.

Setiap 1 kilogram strawberry yang kategori super, petani menjual pada pedagang di supermarket dan swalayan seharga Rp 35.000. ''Saya tidak tahu berapa rupiah para pedagang itu menjual kembali pada konsumen di supermarket,'' tuturnya.

Marjono kembali menuturkan, strawberry yang dijual bebas dari pestisida, sehingga langsung bisa dimakan tanpa takut keracunan.

Biasanya kalau petani menggunakan pestisida dalam bercocok tanam, maka buah yang baru dipanen akan membusuk dalam jangka waktu dua hari. Dan petani pun akan rugi sendiri.

''Namun agar para konsumen sreg dalam mengonsumsi, kardus atau plastik yang digunakan sebagai kemasan ada tulisan: Bebas Pestisida, Bisa Langsung Dimakan.'' (Langgeng Widodo-74)

Diambil dari Suara Merdeka, 23 Juni 2003.

Wortel Instant ala mmmBlumbang

 

Bermula dari harga wortel yang cenderung turun, petani di desa Blumbang Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar berinisiatif untuk mengolah panen wortelnya yang berlimpah menjadi minuman wortel instant yang bernilai gizi tinggi dan mudah dikonsumsi. Jadilah wortel instant ini.

Wortel instant dibuat dari sari wortel dan gula yang dimasak hingga mengkristal. Tanpa tambahan perasa sintetis dan bahan pengawet buatan, karena gula sudah mampu menjadi bahan pengawet alami. Minuman ini bisa langsung dikonsumsi dengan cara mengambil 1-2 sendok makan wortel instant, menambahkan 200-300 ml air matang (tergantung tingkat kemanisan yang diinginkan), lalu di aduk hingga larut. Enak dikonsumsi hangat maupun dingin.

Minuman ini cocok buat mereka yang terlalu repot untuk membuat juice wortel. Meski rasanya akan berbeda dengan juice wortel, tapi kita bisa memperoleh vitamin A serta beberapa kandungan mineral (Magnesium dan Ferum). Wortel instant ini bisa diperoleh dalam bentuk curah dengan harga Rp. 20.000 per kg. Cukup murah bukan?

Silahkan menghubungi alamat dibawah ini untuk memperoleh minuman bergizi tersebut:
Pokja Kelompok Tani Blumbang
Alamat: Kalurahan Blumbang, RT. 05 RW 03 Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
Kontak: Bp. Tambar
HP: +62 081548071502
Jika ternyata sulit dihubungi (yah, karena Pak Tambar adalah petani yang sering ke sawah tanpa membawa HP), silahkan bisa melalui saya di MP ini, atau Bayu di http://bayucahyono.multiply.com.

Yang perlu disayangkan minuman ini belum dikemas dalam kemasan yang cukup representatif. Jika digarap dengan lebih optimal, dengan design kemasan yang menarik dan distribusi pemasaran yang luas, minuman ini berpotensi besar untuk menggantikan minuman instant yang banyak beredar di pasaran dengan rasa sintetis. Bukankah ini lebih bergizi?


Diambil dari Haleygiri Multiply.

01 July 2007

Petani Sayur Tawangmangu Beralih ke Tanaman Stroberi

 
Karanganyar, Kompas - Tidak stabilnya harga komoditas sayur-mayur selama ini mendorong sejumlah petani di sentra pertanian Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa tengah, beralih mengembangkan budidaya tanaman stroberi. Harga jual buah stroberi lebih stabil dan nilai jualnya juga lebih tinggi karena belum banyak petani di daerah lain yang mengembangkan jenis tanaman yang cocok ditanam di daerah dingin ini.

"Untuk wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, baru kelompok kami yang secara serius mengembangkan stroberi. Seperti petani di Kopeng (Kabupaten Magelang), saya lihat belum ada yang mengembangkan tanaman stroberi," kata Marjono, Ketua Kelompok Tani Stroberi Sumber Agung, ketika ditemui di Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Selasa (9/12).

Marjono menjelaskan, setiap satu hektar lahan tanaman stroberi bisa menghasilkan hingga 150 kilogram buah. Harga buah dari petani untuk jenis super atau kelas A mencapai Rp 15.000 per kilogram (kg). Setelah dipak dalam plastik transparan, stroberi dijual ke supermarket seharga Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per kg.

"Sampai sekarang ini ada sekitar 20 supermarket di Jateng dan DIY yang siap mengambil hasil tanaman kami," ujar Marjono. Dikatakan, ia dan 24 petani di Kelompok Tani Stroberi Sumber Agung mulai membudidayakan stroberi tahun 1999. Langkah ini diambil karena petani selalu dirugikan akibat harga sayur-mayur yang tidak pernah stabil.

Bermula dengan menanam stroberi ana (jenis lokal), kata Marjono, ia dan teman-temannya mulai memikirkan untuk mengembangkan tanaman stroberi yang cocok dengan iklim di di Lereng Gunung Lawu dengan ketinggian 1.200 di atas permukaan air laut. Dengan biaya sendiri, mereka mengadakan studi banding ke Lembang, Jawa Barat; Malang, Jawa Timur; dan Bali.

"Dari studi banding itu, kami mendapatkan empat jenis stroberi, yaitu jenis silva, daun keriting, daun bundar, dan tristar. Yang paling cocok untuk daerah kami adalah jenis daun keriting dan tristar. Mulai tahun 2000 kami mengembangkan di lahan seluas tiga hektar," ujarnya. Saat ini ada sekitar 20 supermarket yang siap menampung.

"Tanaman stroberi ini tidak bagus kalau terkena hujan. Karena itu, kami hanya bisa mengembangkan setiap musim kemarau. Kami mulai menanam bulan Februari-Maret, nanti bulan Juli sudah panen," kata Marjono lagi. (IKA)

Diambil dari Kompas.com, 10 Des.2003