Showing posts with label Lebaran. Show all posts
Showing posts with label Lebaran. Show all posts

20 September 2010

Lebaran ala Pancot, bukan ketupat, tapi "pindhang"

 
Lebaran..lebaran..lebaran...

Buat semuanya, mohon maaf lahir dan batin atas salah-salah kata dan (mungkin) salah-salah tulis. Meskipun sholat Ied sudah lewat seminggu lebih, bukan berarti maaf-maafannya telat kan? :)

Seminggu setelah lebaran, mungkin temen-temen yang merantau sudah kembali ke medan juang masing-masing, mungkin juga belum. Ada yang buru-buru berangkat, tapi ada juga yang masih santai-santai menikmati teh com sambil api-api manasi pindhang, hehehe

Ngomong-ngomong tentang pindhang, jadi pengin cerita sedikit, terutama buat sampeyan yang bukan warga Pancot. 

"Pindhang" yaitu kuah dari daging yang dimasak dengan bumbu tertentu (ada yg mau memberi definisi lebih akurat tentang ini?). Tiap lebaran, bisa dipastikan bahwa hampir semua rumah di Pancot memasak pindhang, pindhang daging sapi khususnya. Hal ini jelas berbeda dengan daerah-daerah lain. Ketika daerah lain menganggap lebaran identik dengan ketupat, orang Pancot justru menganggap lebaran identik dengan pindhang. Lho kok bisa?emang ada tradisi memasak menu itu di saat lebaran?

Bukan tradisi, melainkan sekadar kebiasaan yang sudah berjalan sekian lama. Masyarakat Pancot sejak dulu suka membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas 30--50 orang untuk bersama-sama membeli sapi buat disembelih pas hari raya. Nah, karena saking banyaknya warga, maka banyak pula kelompok yang terbentuk. Itu berarti, banyak juga sapi yang disembelih. Tiap tahun sekitar 10--15 sapi yang disembelih di Pancot menjelang hari raya Idul Fitri.

Dan momen menyembelih sapi itu kadang juga ngangeni. Orang-orang ngumpul, becanda khas ala mereka, dan menunjukkan kekompakan saat harus sama-sama mengurus daging sapi dan membagikannya ke seluruh anggota kelompok. Jujur saja, saya selalu menyempatkan diri untuk ikut nimbrung dalam 'ritual' ini. Bagi saya, kegiatan menyembelih sapi di Pancot bukan sekedar foya-foya atau pengin aneh-aneh, tapi lebih terasa sebagai saat merayakan kekompakan bersama. Tahukah sampeyan? agar satu kelompok bisa membeli satu atau dua ekor sapi menjelang lebaran, tiap anggota diwajibkan menabung selama setahun. Tiap bulan mereka menyetor tabungan dalam jumlah yang sudah ditetapkan kepada pengurus kelompok. Hasil iuran tiap bulan itulah yang pada akhirnya dipakai untuk membeli sapi dan dinikmati bersama-sama saat lebaran. Asyik kan?

Oya, kalau yang menjadi anggota kelompok mbelih sapi itu kebanyakan bapak-bapak, belakangan ini saya dengar para ibu-ibu juga kompakan membentuk kelompok-kelompok sendiri. Mereka menabung tiap bulan juga, tetapi bukan ditujukan untuk membeli daging sapi, melainkan sembako. Dengan demikian, ketika lebaran datang, ibu-ibu sudah memiliki persediaan sembako yang cukup di rumah masing-masing. Ditambah dengan bapak-bapak yang pulang membawa daging sapi, lengkaplah sudah kemeriahan lebaran di rumah-rumah warga Pancot. 

Lagi-lagi saya tersenyum jika ingat betapa kreatifnya mereka menyiasati kebutuhan pada saat lebaran. Dengan kompak dan tekun mereka menabung, menyimpan sedemikian rupa, sehingga ketika lebaran datang, mereka tidak kelabakan. Bisa dibayangkan jika mereka tidak membentuk kelompok-kelompok seperti itu, pasti pas lebaran mereka kerepotan menyesuaikan uang belanja dengan kebutuhan akan barang-barang yang harganya melonjak. Dengan adanya kelompok sembako dan kelompok 'mbelih sapi' tersebut, mereka bisa tersenyum senang dan tenang pada hari lebaran :)


Akan tetapiii.....khusus buatku (atau mungkin sampeyan juga?) sampai sekarang aku agak 'trauma' dengan yang namanya 'pindhang'. Agaknya perutku memang kurang bersahabat dengan kuah itu, soalnya bisa berdampak sistemik sampai berhari-hari. Dan aku memilih menjauhinya meski orang-orang terus mengiming-imingi. 


Siapa sih yang mau menikmati masa lebaran dengan perut mulas berhari-hari?hehehe...

12 August 2010

Tarawih di Pancot...

 
Malam ketiga puasa, teringat tarawih dan tetek bengeknya di rumah. Yah, salat 8 rakaat dan witir 3 rakaat bersama tetangga dan teman-teman lama memang memiliki kesan tersendiri. Ada nuansa "nyaman" bersama mereka. Ada nuansa "aman", dan tentunya juga nuansa "nyantai", "nyess."


Salat tarawih di Pancot diselenggarakan di tiga tempat, eh empat (atau lebih?). Walah, malah lupa. Maaf...maaf. Lumayan lama gak tarawih bareng2 di sana soale :)

Biasanya tarawih diadakan di Masjid Darussalam, Masjid Arrahman, dan Masjid Al-Hidayah (yang baru). Dulu juga sering diadakan di rumah mbah Gino untuk para Kasepuhan, entah sekarang masih ada gak yang di sana.

Jaman kecil dulu, ketika masih aktif TPA, tarawih di Pancot bukan semata-mata datang, salat, lalu pulang. Ada yang saya ingat, untuk sesi ceramah tampaknya memang dijadwalkan sedemikian rupa sehingga beberapa kali dalam seminggu ada sesi tanya jawab. Ada yang bertanya langsung, tapi ada juga yang menyampaikan pertanyaan lewat surat yang dimasukkan dalam kotak yang telah disediakan. Tentu saja pertanyaan berkisar soal-soal keagamaan. Yang menjawab adalah para ustadz2 Pancot sendiri, yaitu mereka yg telah lumayan mumpuni dan pernah menimba ilmu di tempat2 lain.

Oya, ada lagi yg teringat. Sehabis Subuh, anak-anak kecil biasanya jalan-jalan rame-rame mengitari kampung. Tentu saja sambil bermain dan bercanda ria khas mereka. Sekali putaran, terus pulang dan siap-siap berangkat sekolah. Ah, masihkah adik2 sekarang bareng-bareng jalan2 spt itu? atau mereka buru-buru pulang dan nonton TV/otak-atik Hape/atau bahkan online/fesbukan?

Selain ingatan-ingatan yang berkelebat, ada sedikit gelisah juga. Di kampung sekecil itu, salat terpecah di beberapa tempat, apakah tiap masjid terisi penuh?Apakah memang tidak muat ditampung di masjid induknya saja?

Ah, jadi membayangkan, lebih tepatnya memanggil kembali bayangan lama. Seandainya salat tarawih di Pancot bisa dikumpulkan di satu tempat. Bareng-bareng, rame-rame, tidak terpencar-pencar seperti sekarang. Alangkah kompaknya. Dan itu bukan hal yang mustahil sebenarnya...

Met tarawih, sedulur-sedulur semua...